Ini cerita tempat asal reog ponorogo. Kami pernah berkunjung ke Telaga Ngebel (734m
tingginya) yang terletak di lereng pegunungan Wengker. Di Telaga Ngebel ini dulunya ada kerajaan Banataran Angin, yang maju ilmu berkelahinya. Mereka belajar ilmu berkelahi dalam kelompok-kelompok yang dipimpin warok. Warok-warok ini katanya sering mengadu ilmu berkelahi. Mereka memiliki senjata yang aneh, yaitu kolor atau ikat pinggang dari kain atau tali, yang disebut lawe. Yang terkenal adalah Warok Suromenggolo dan Warok Surogento.
Raja Bantaran Angin yang terkenal adalah Prabu Kelono Sewandono dengan patihnya Bujang Ganong dengan senjata cambung Samandiman. Saat Kerajaan Doho Kediri mengadakan sayembara untuk putri Dewi Songgolangit, Patih Bujang Ganong mengikutinya untuk Prabu
Kelono Sewandono. Sayembaranya adalah menciptakan tontonan menarik, berupa tari-tarian yang diiringi gamelan dan bunyi-bunyian yang menarik, diiringi seratus empat puluh ekor kuda kembar dan mempersembahkan seekor binatang berkepala dua yang dapat menari. Ternyata saingannya adalah Raja Lodaya dari Blitar yang bernama Raja Singobarong.
Raja Singorabarong mengutus penyelidik ke Kerajaan Banataran Angin, namun dua orang tertangkap. Setelah disiksa, seorang penyelidik yang bernama Ardawalika tidak tahan dan membocorkan bahwa mereka ditugaskan oleh Raja Singobarong. Raja Kelono Sewandono menusuk lambung Ardawalika karena benci kepada pengecut atau pengkianat. Sementara penyelidik yang bernama Lodra karena tetap bertahan tidak mau mengaku walaupun disiksa, malah dibebaskan, karena berjiwa satria.
R
aja Singobarong akhirnya menyerang Kerajaan Banataran Angin. Raja Singobarong bertubuh manusia, berkepala dan bertangan harimau, dan di pundaknya bertengger burung merak yang sering mengepakkan sayapnya. Dengan manteranya, burung merak ini bertugas mematuk kutu-kutu yang ada di rambut kepala Singobarong.
Raja Kelono Sewandono ternyata dapat mengalahkan Raja Singobarong dengan cambuk Samandiman, sehingga Raja Singobarong ini tidak mampu berdiri dan hanya dapat merangkak seperti harimau. Burung meraknya ternyata tetap di atas kepalanya, sehingga sekarang seperti ada dua kepala, harimau dan merak, yang menari-nari karena kepalanya yang gatal.
Untuk memenangkan sayembara Dewi Songgolangit di Doho Kediri, Raja Kelono Sewandono mempersembahkan tarian dengan Singobarong sebagai masternya, diiringi warok dan Patih Bujang Ganong yang menggoda Singobarong agar menarinya lebih indah lagi. Hebat ya ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar