Minggu, 28 Oktober 2007

Arum manis

Arum manis dikenal oleh anak-anak sudah sejak lama. Dulu saat masih kecil, tahun 75-an, jika ada suara "ngik-ngok-ngik-ngok", anak-anak segera berkumpul. Antri membeli arumanis, sebungkus antara serupiah sampai lima rupiah. Serupiah itu disebut segilo, lima rupiah disebut limanggilo. Ini terjadi di Blitar, di Prembun juga. Pagi ini di jalan depan rumah ada suara ngik-ngok-ngik-ngok lagi... wow suara yang sudah lama tidak terdengar. Suara yang keluar dari dawai biola penjual arumanis. Seperti tahun 75-an aku segera lari keluar .. memanggil penjual arumanis di depan rumah, dan mau beli tiga bungkus. Bukan untukku tapi untuk anak-anak... Masih dengan biola dan tempat arumanis yang ditenteng, penjualnya masih muda sekitar 35 tahunan. Sebungkus sekarang 1000 rupiah. Tapi ya kubeli saja, sambil nostalgia... Rasanya masih sama dengan yang dulu, dengan gula merah. Walaupun dulu kebanyakan warnanya merah muda, dan sekarang kecoklatan. Kalau di supermarket arummanis sudah jadi dikemas menarik, jadi gulakapas. Menurut aku sih, yang dari supermarket masih kalah dengan arummanis yang asli, yang dijual dengan ngik-ngok-ngik-ngok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar